
Tentang LADORM
Asrama Mahasiswa Gorontalo Lenteng Agung atau Ladorm berdiri atas peran kolaboratif antara dan pemerintah daerah (pemda) provinsi Gorontalo dan organisasi kemahasiswaan .
Di gerakkan oleh Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Gorontalo Cabang Jakarta Raya (HPMIG Jaya) ketika itu Ririn Afitri Tatu, yang berinisiatif mencari tempat tinggal untuk mahasiswa bisa bernaung. Aspirasi mahasiswa melalui HPMIG Jaya tersebut, terdorong karena mahasiswa masih menempati sekretariat organisasi Kerukunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Pohuwato (KPMIP) ditahun 2012. Ketika masa kontrak sekretariat itu berakhir, kebutuhan tempat tinggal menjadi hal yang urgen.
Gayung bersambut, usaha itu diterima baik oleh pemda. Pemda berkeinginan untuk mendirikan asrama mahasiswa yang bertujuan menyediakan tempat tinggal yang layak, aman, dan kondusif bagi mahasiswa asal Gorontalo, yang tengah menempuh pendidikan di Jakarta dan sekitarnya.
Bermodalkan hubungan baik dengan pemerintah provinsi Gorontalo, maka pada tahun 2015 upaya itu berhasil mendapat persetujuan. Bangunan yang dulunya mes (fasilitas pemerintah untuk pegawai negeri di Gorontalo yang melakukan perjalanan dinas ke Jakarta) dialih-fungsikan menjadi asrama mahasiswa. Tepatnya, pada tanggal 9 November 2015 Ladorm diresmikan oleh Gubernur Rusli Habibie. Tanggal tersebut disepakati sebagai hari ulang tahun Ladorm. Saat itu pertanggungjawaban Ladorm melekat di kantor perwakilan, yang kini menjadi kewenangan biro umum.
Kemudian, pada pertengahan tahun 2015 semua mahasiswa mulai beranjak masuk, dan Ririn menjadi ketua asrama untuk pertama-kalinya. Hingga saat ini Ladorm sudah mengalami pergantian kepengurusan dari masa ke masa:
- Ririn Afitri Tatu (Periode 2015-2016)
- Yusuf Polimengo (Periode 2016-2017)
- Inton Lasenga (Periode 2017–2018)
- Iksan Mohamad (Periode 2018–2022)
- Clift Lumingas (Periode 2022–2023)
- Nadia Nur Arifah Hulawa (Periode 2024–2025)
- Ricky Mateka (Periode 2025–Sekarang)
Masing-masing kepimpinan memiliki program kerja dan keunikannya. Belajar dari pengalaman pengurus asrama pada periode awal pembangunan, prinsip dan nilai yang berhasil ditanamkan yaitu adanya budaya saling mengenal tidak hanya wajah dan nama. Lebih dari itu, harus terbangun sisi emosional antar individu pengurus, adanya sikap saling menghormati dan menghargai tanpa terjebak pada relasi senior-junior, serta ada rasa kepemilikan terhadap asrama (sense of belonging) dalam menjaga nama baik didalam maupun diluar lingkungan asrama.
Selanjutnya, terdapat mekanisme "kritik otokritik" sebagai forum internalisasi nilai-nilai persatuan, ikatan solidaritas, dan hubungan kebersamaan, yang memiliki orientasi memperkuat kohesi antar individu penghuni Ladorm.
Aspek penting lainnya dari sisi budaya kemahasiswaan, yaitu membangun literasi (spesifik membaca dan berdiskusi), sebagai ciri khas kaum intelektual atau mahasiswa.
Terakhir, untuk memperkuat hubungan eksternal asrama, pengurus asrama mengadakan ulang tahun asrama yang dirayakan dengan mengundang asrama mahasiswa Gorontalo lainnya (Bogor dan Salemba). Perayaan itu diisi dengan kegiatan olahraga dan peringatan hari-hari besar.


